ZAKAT FITRAH

Zakat fitrah di wajibkan pada tahun kedua yaitu pada tahun di wajibkan puasa. Dalil yang mewajibkan zakat fitrah adalah hadist Nabi Saw :

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر من رمضان على الناس صاعا من تمراوصاعا من شعير على كل حر اوعبد ذكر او انثى من المسلمين.

Satu sha’ = 2751 gram menurut mayoritas ulama, sedangkan menurut Imam Abu Hanifah 3800 gram.

Hikmah zakat fitrah ialah memperbaiki kekurangan puasa seseorang dan mencegah pakir miskin meminta-minta pada hari raya. Sesuai dengan hadist Nabi :

أغنوهم عن الطوف في هذا اليوم (رواه الدار قطني وابن عاد وحاكم).

Setiap orang yang wajib di belanjai wajiblah dia mengeluarkan zakat fitrahnya. Anak yang sudah dewasa dan tidak sekolah lagi tidak wajib bahkan tidak syah bagi orang tua untuk membayar zakat fitrahnya, tanpa seizin anak tersebut.

Mayoritas ulama berpendapat kewajiban membayar zakat fitrah mulai terbenam matahari malam hari raya. Menurut mazhab Syafi’i boleh menyerahkan pembayaran zakat fitrah semenjak awal ramadhan. Menurut mazhab Syafi’i dan Hanbali di anjurkan pembayaran zakat fitrah sebelum shalat hari raya dan akhir pembayarannya sebelum terbenam matahari satu syawal.

JENIS ZAKAT FITRAH, SIFAT DAN KEADAANYA

Mazhab Hanafi berpendapat jenis zakat fitrah ada 4 macam : Gandum, Kacang, Tamar dan Buah Anggur. Kadarnya adalah : gandum = 1 gantang = 1900gram, sedangkan kacang, tamar dan buah anggur = 1 gantang = 3800gram. Hadis yang menjadi dalil pada pendapat ini adalah ma’lul dan bergoncang sanadnya, dan menurut mazhab Hanafi boleh membayar zakat fitrah dengan uang, alasannya hadist Nabi Saw

أغنوهم عن المسألة في مثل هذا اليوم.

Mayoritas ulama berpendapat jenis zakat fitrah adalah segala biji-bijian dan buah-buahan yang di jadikan makanan pokok. Kadarnya 1 gantang = 2751 gram, dalilnya lebih shohih dari dalil yang di pakai oleh Mazhab Hanafi. Menurut jumhur ulama tidak boleh membayar zakat fitrah dengan harga, orang yang membayar zakat fitrah dengan harga, tidak syah. Karena hadist Nabi Saw :

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر من رمضان على الناس صاعا من تمر اوصاعا من شعير الى أخر الحديث.

Jika seseorang tidak melaksanakan yang di wajibkan Nabi tersebut, maka dia meninggalkan sunnah Nabi Saw.

MUSTAHAQ (Orang yang berhak menerima ) ZAKAT

Berdasarkan surat At Taubah ayat 60 :

انما الصدقات للفقراء والمساكين والعاملين عليها والمؤلفة قلوبهم وفي الرقاب والغارمين وفي سبيل الله وابن السبيل والله عليم حكيم.

Yang berhak menerima zakat berdasarkan ayat di atas hanya delapan orang, hal ini di pahami dari kata “Innama” yang menurut nahwu di namakan ” Kafah Wa Makfufah” sedangkan menurut balaghoh di namakan ” Adat Al Hasr” yakni membatasi suatu masalah. Oleh karena itu zakat tidak boleh di berikan selain kepada mustahaq yang delapan. Kalimat “As Shodaqoot” menunjukkan segala macam zakat, baik zakat fitrah atau zakat harta benda, sebab kalimat “As Shodaqoot” adalah jamak. Bila Amil atau Pemerintah yang membagikan zakat, wajib menyamaratakan di antara mustahaq yang ada selain bagian Amil. Hal ini di pahami dari huruf “Waw” yang berfungsi mengatopkan satu mustahaq ke mustahaq yang lain, “Waw” pada kalimat tersebut di namakan “At Tasyriik”.

Mustahaq Tersebut :

  1. Al Faqir :

من لا مال له ولا كسب يقع موقعا من حاجته.

Faqir adalah Orang yang tidak memiliki harta dan tidak punya usaha yang mencukupi kebutuhannya. Misalnya dia membutuhkan sepuluh sedang yang di dapatnya hanya empat atau kurang seperdua dari yang di butuhkannya. Dari kata “Al Fuqoro'” (jamak taksir) zakat tidak boleh di berikan kepada satu atau dua orang faqir saja, minimal wajib tiga orang.

  1. Miskin :

من قدر مالا اوكسب حلالا يساوي نصف ما يكفه اواكثر من النصف.

Miskin adalah Orang yang memiliki harta dan punya usaha yang halal dan dapat menutupi separoh atau lebih dari kebutuhannya tapi tidak cukup. Menurut mazhab Syafi’i dan Hanbali Fakir lebih buruk keadaanya di banding dari Miskin. Alasan mereka : Allah memulai firmannya dengan menyebut “Al Fuqoro'” baru kata “Masaakin”. Dan hadist yang menyatakan bahwa Nabi Saw pernah meminta agar beliau di berikan kehidupan dalam kemiskinan dan Nabi berlindung dari kefaqiran. (hadistnya riwayat Tirmizi).

Faqir menurut etimologi adalah Orang yang tercabut tulang belakangnya lalu putus tulang sulbinya, Sedang menurut Mazhab Hanafi dan Maliki miskin lebih buruk keadaannya dari orang faqir, karena kata miskin menurut mereka orang yang tak punya tempat tinggal.

  1. ‘Amil :

هم الذين يولهم الامام اوالنائبة, العمل على جمع الزكاة من الأغنياء.

Amil adalah Orang yang di angkat oleh Imam atau yang mewakilinya untuk mengumpulkan zakat dari orang-orang kaya. Amil yang berhak menerima zakat hanyalah amil yang di angkat pemerintah. Dengan alasan bahwa Nabi Saw dan Khulafaurrosyidin mengangkat amil pada waktu itu. Hadist tentang Nabi mengangkat amil di riwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, dan hadist lain berbunyi :

بعث عمر بن الخطاب رضي الله عنه على الصدقة

Umar bin Khattob mengangkat amil untuk memungut zakat.

Amil zakat yang bukan di angkat pemerintah (yang di angkat masyarakat) bukanlah amil zakat yang berhak menerima zakat. Menurut UU zakat yang telah di putuskan oleh Presiden, bahwa amil di desa atau kecamatan adalah orang yang di ajukan oleh KUA kecamatan dan di lantik camat.

Syarat-Syarat Amil :

ويشترط في هذا أن يكون فقيها بما فوض اليه منها وأن يكون مسلما مكلفا عدلا سميعا بصيرا ذكرا.

Di syaratkan amil yang di angkat itu :

  1. Ahli fiqh tentang zakat
  2. Muslim
  3. Baligh lagi berakal
  4. Merdeka lagi adil
  5. Jelas pendengaran dan penglihatan
  6. Laki-laki

Pendistribusian zakat kepada mustahaknya wajib di sama ratakan oeh amil kepada golongan mustahak yang ada. Sesuai dengan pendapat Imam Nawawi :

وان وجد منهم خمسة وجب لكل صنف خمس.

Dan kalau di dapat hanya lima golongan saja maka wajib bagi setiap golongan seperlima. Bagian untuk pribadi –pribadi setiap golongan boleh berlebih kurang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Bahagian amil bukan seperdelapan tetapi hanya sekedar upah yang layak sesuai dengan pekerjaannya, demikian pendapat Imam Nawawi dalam kitab “Al Majmu’.

Pemerintah atau amil tidak sah memperjual belikan zakat. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi yang berbunyi :

لا يبيع الا فيما يملك (رواه ابوداود).

Tidak sah jual beli pada barang yang bukan di miliki.

Jelas dalam hal ini bahwa amil bukanlah pemilik zakat, akan tetapi amil hanyalah pencatat, pengumpul, penjaga dan pembagi zakat kepada mustahak. Ukuran upah yang di peroleh amil dari harta zakat di sesuaikan dengan gaji harian yang berlaku di daerah tersebut.

  1. Muallaf

Muallaf ada 2 macam : Orang Islam dan Orang kafir.

Orang kafir yang termasuk Muallifati Qulubihim ada dua macam :

  1. Orang kafir yang di harapkan kebaikannya
  2. Orang kafir yang di khawatiri kejahatannya

Kedua golongan ini menurut Imam Hanbali dan Maliki tetap di berikan zakat agar mereka tetap tertarik kepada Islam, sedang menurut Imam Hanafi dan Syafi’i kedua golongan tersebut tidak di berikan zakat. Sebab khulafa’ arrosyidin sesudah Nabi Muhammad Saw tidak memberikan zakat kepada mereka.

Adapun orang yang baru masuk Islam, maka zakat di berikan kepada empat golongan dari mereka :

1. Orang Islam yang niatnya masih lemah

2. Orang Islam yang punya kedudukan terhormat, dengan di berikan zakat kepadanya ada harapan masuk Islam teman-teman sekedudukan dengannya.

3. Orang Islam yang ada di forn terdepan dalam menghadapi orang kafir

4. Orang Islam yang memerangi si pembangkang zakat.

5. Ar Riqob (Hamba)

Hamba menurut mayoritas ulama adalah Hamba yang beragama Islam yang sudah di tentukan tuannya berapa yang harus di bayarnya supaya dia merdeka. Perlu di jelaskan bahwa hamba sekarang ini masih ada yaitu di daerah Meuritania. Hamba mukatab boleh menerima zakat sebanyak yang di tentukan tuannya.

6. Ghorim

Ghorim adalah orang yang berhutang, menurut Mazhab Hanbali dan syafi’i utangnya untuk pribadinya atau untuk orang lain, sama ada utangnya untuk taat atau maksiat.

Bila utangnya untuk pribadinya tidak boleh di berikan zakat kecuali dia benar-benar fakir (tidak mampu membayarnya). Bila utang karena mendamaikan orang boleh dia menerima zakat, untuk menutupi utang tersebut meskipun dia kaya. Jika utangnya karena maksiat boleh dia menerima zakat bila dia sudah bertaubat dari maksiat tersebut dan dia tidak mampu membayarnya. Orang yang berhutang di sebabkan kemaslahatan umat seperti membangun mesjid, madrasah atau kebutuhan orang banyak, boleh menerima zakat untuk membayar utang tersebut, meskipun dia kaya.

Perlu di ketahui bahwa utang piutang tidak boleh di jadikan zakat seperti si A punya hutang pada si B sebanyak 100.000 dan kebetulan si B wajib mengeluarkan zakat, maka hutang si A tidak boleh di jadikan zakat oleh si B.

7. Sabilillah

الغزة الذين لا حق لهم في الديون بل يغرون منطوعين وبه قال ابو حنيفة ومالك رحمهما الله

Orang yang berperang melawan orang kafir yang tidak ada hak (gaji) mereka dalam daftar gaji bahkan mereka berperang secara suka rela. Sependapat dengan defenisi Imam Abu Hanifah dan Malik. Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat boleh memberi zakat kepada orang yang akan menunaikan ibadah haji (bahagian sabilillah). Pendapat Imam Ahmad bin Hanbal ini sesuai dengan pendapat Abdullah bin Umar Ra. Dan hadist yang di jadikan alasan Imam Ahmad bin Hanbal statusnya mudallas (samar-samar) ya’ni tidak patut di jadikan hujjah.

Alasan Mazhab Syafi’i bahwa yang di maksud fi sabilillah adalah orang yang berperang melawan orang kafir adalah :

1. Pemahaman yang timbul dengan segera dari kata sabilillah adalah berperang, demikianlah yang paling banyak di jumpai dalam Al qur’an.

2. Hadist yang berbunyi :

لاتحل صدقة لغني الا الخمسة………. اوغامر في سبيل الله (رواه ابو داود وابن ماجه)

Tidak boleh di berikan zakat kepada orang kaya kecuali lima bagian, salah satu di antaranya orang yang berperang fi sabilillah.

Akan tetapi menurut tapsir Al manar juz X halaman 493 :

سبيل الله يشمل سائر المصالح الشرعية العامة

Fi sabilillah mencakup sekalian kemaslahatan yang di bolehkan syariat secara umum. Imam Al Kasani dalam kitab Al Bada’I menapsirkan sabilillah itu dengan sekalian jalan mendekatkan diri kepada tuhan. Sebab kata beliau kata sabilillah itu umum mencakup pembangunan masjid dan seumpamanya. Sebagian ulama Hanafi berpendapat sabilillah adalah penuntut ilmu walaupun dia kaya.

8. Ibnu Sabil

ابن السبيل هو المسافر او من يمشي السفر هو يحتاج في سفره

Adalah orang yang sedang musafir atau orang yang bermaksud musafir dan dia membutuhkan perbelanjaan pada waktu musafirnya. Di berikan zakat kepada orang yang musafir sebanyak kebutuhannya dan kebutuhan orang yang menemaninya (belanja, pakaian, perongkosan pulang pergi yang layak). Dan bila tidak ada harta orang yang musafir di perjalanannya atau di tempat tujuannya.

H. MAHMUDDIN PASARIBU

USTADZ MA’HAD MUSTHAFAWIYAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: